Wednesday, January 17, 2018

Makalah Kyai dan Santri Dalam Perang Kemerdekaan

Tags




BAB 1
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang Penjajahan
Peristiwa penjajahan terhadap bangsa Indonesia sampai zaman kemerdekaan, bila dihitung sejak zaman Portugis, berlangsung selama 434 tahun. Akni sejak tahun 1511-1945. Banyak faktor yang menyebabkan negara-negara lain ingin menguasai negara Indonesia. Salah satu faktor yang membuat tergiurnya bangsa penjajah adalah posisi geografis kepulauan indonesia ang terletak diantara lautan pasifik. Kaya mineral, hasil bumi, dan rempeh-rempah.
Selain ingin menguasai kekayaan alam Indonesia, bangsa penjajah tersebut (Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda, dan jepang) juga memiliki tujuan lain yaitu perluasan wilaah atau politik kekuasaan dan penyebaran agama. Baik itu kristen maupun sinto. Mereka tidak terima bila negara Indonesia diduduki oleh masarakat yang mayoritas beragama Islam. Dengan menjadikan negara Indonesia sebagai wilayah kekuasaannya maka mereka akan mudah menyingkirkan ajaran agama Islam.
Jadi yang melatar belakangi bengsa penjajah itu ada 3 yang di kenal dengan 3G: Gold, Glory, dan Gospel.

BAB II
PERANG TERBUKA MELAWAN PENJAJAH

2.1       Cara Licik Penjajah Terhadap Kyai dan Santri.
Partisipasi kyai dan santri dalam perlawanan bersenjata atau perang sabil tidak hanta dilakukan pada abad ke 19 saja, tapi sejak kedatangan Portugis pada tahun 1522. Oleh karena itu Belanda mencoba meletakkan sistem baru bagaimana mengeliminasi kyai dan santri yang sangat dominan itu. Pada mulanya Belanda menempuh cara menghancurkan kyai dan Islam dengan melancarkan politik pengembangan agama non Islam, tapi sekalipun gerakan ini dibiayai oleh pemerintah, hanya mampu menarik suku-suku terasing masuk ke agamanya.
Untuk mencapai target diagnosis Belanda memerlukan kawan. Maka belanda menggunakan tenaga pangreh praja dan kondisi jawa memungkinkan hal itu, yakni dengan sistem tanam paksa. Dengan begitu antara petani da kyai-santri yang bermata pencaharian bertani dapat dipatahkan dengan penguasaan atas tanah. Selain itu ada lagi politik ang dipakai oleh Belanda untuk melumpuhkan kyai dan santri yaitu dengan sistem depolitisasi kkyai dan santei desa. Belanda membuat kyai tidak mungkin lagi menjalankan fungsi kepemimpinannya dengan cara serangan dan gangguan yang meletihkan. Selain itu Belanda juga amenggunakan kai-kyai bayaran yang dapat dibeli dan dipersenjatai dengan menanggung tugas melenyapkan kyai-kyai militan yang berbahaya bagi kolonial Belanda.
Pengalaman perang yang sudah dialami oleh Belanda telah melahirkan teori perang yang diciptakan oleh C. Snouck Hurgronje. Yaitu dengan sistim Devide et Impera. Dengan teori ini Belanda mampu menguasai semua daerah jajahannya dengan mudah. Dengan mengadu domba penduduk yang satu dengan ang lain, bahkan penguasa yang satu dengan yang lain makan akan lebih mudah bagi Belanda masuk dan menguasai daerah jajahannya.
Selain taktik adu domba ada lagi teori untuk melemahkan umat islam yaitu policy politik yang diberi nama “penetration pacifique”, yang inti dari teori tersebut tidak menyerang atau memusuhi Islam secara langsung namun sebaliknya Belanda berbuat seolah-olah mendukung dan merangkul tokoh-tokoh agama Islam. Namun politik tersebutlah yang malah mampu melemahkan mental umat Islam karena dibeberapa daerah perlawanan terhadap kaum imperalis semakin kendor.
Namun teori tersebut tidak mampu mempengaruhi semua umat Islam, masih ada sebagian yang malah lebih semangat dalam berjuang melawan penjajah. Belanda tidak kehabisan akal, mereka mempengaruhi masarakat awam agar menjadikan Islam sebagai doktrin agama saja dan menentang Islam sebagai doktrin politik. Namun usaha ini gagal, kebanyakan masyarakat malah menjadikan agama sebagai doktrin politik guna membangkitkan kesadaran nasional. dimulai timbulnya wadah Serikat Dagang Islam, disusul dengan Muhammadiyah, kemudian Nahdlotul Ulama’.

2.2       Portugis, Spanyol, dan Belanda Penjajah Negeri Pertama Kali.
Kaum penjajah portugis, dalam menaklukkan ekspansi negara jajahannya pada tahun 1522 telah melukan penaklukan di tiga daerah baru. Di pelabuhan sunda kelapa Banten, kota Ambon, dan Banda. Selain memonopoli perdagangan pala dan rempah-rempah pemerintah Portugis juga mengkristenkan penduduk asli daerah-daerah kekuasaannya. Bahkan penyiaran agama tersebut dilakukan dengan cara kekerasan.
Dalam kurun waktu yang hampir bersamaan, datang pula bangsa Spanyol ke Maluku tahun 1523, dengan dalih berdagang rempah-rempah dan pala. Namun pada akhirnya mereka juga berusaha menguasai beberapa kepulauan dan sekaligus melakukan pengkristenan terhadap penduduk pribumi. Kemudian disusul Belanda pada tahun 1596, dengan dalih dan alasan yang sama namun  Belanda juga melakukan apa yang penjajah lakukan terdahulu. Dan ang terakhir disusul oleh Inggris dan melakukan hal yang sama pula. Saat itulah awal dari kekuasaannya kaum penjajah di negeri Indonesia.
Untuk memperkuat posisinya Belanda mendirikan sebuah kongsi perdagangan belanda yang bernama VOC, namun tidak bertahan lama kekuasaan Belanda dengan sistem VOC hanya bertahan sampai tahun 1799 saat kalah perang dengan Inggris.
Perlawanan rakyat Indonesia sendiri terhadap para penjajah tidak berarti apa-apa. Mereka kalah persenjataan dan juga penguasaan strategi perang. Selain itu politik devide et impera yang dipraktekkan oleh Belanda mampu memporak-porandakan persatuan rakyat pribumi. Namun meskipun mereka kalah namun semangat untuk merdeka tetap membara di jiwa mereka.

2.3       Peran Kyai di Masa Sultan Demak.
Semangat mempertahankan nilai keislaman dan semangat untuk mempertahankan bangsa dan negara dari penindaspenjajah tetap membara di dada para kai dan masarakat Islam. Semangat itulah yang telah membakar para ulama’ di zaman awal penjajahan di negeri leluhur Indonesia yakni penjajah dari bangsa Portugis sejak tanggal 21 Agustus 1522 dan dimulai dari mendirikan pangkalan di Sunda Kelapa.
Suasana perlawanan ulama yang sekaligus sebagai perang Demak, berlangsung di dua medan. Menurut Buya Hamka, bahwa putra Sarif Hidayatullah bergerak menangkal pasukan Portugis yang masuk lewat laut di moncong Sunda Kelapa. Di samping tidak tahan melawan serangan Hasanuddin, pasukan Portugis juga kocar-kacir dilanda angin ribut. Pada posisi medan perang yang lain, kyai yang sekaligus panglima perang itu memimpin sendiri 2000 tentara Demak memasuki Sunda Kelapa. Akhirnya Sunda Kelapa berhasil di taklukkan dan menawan pasukan-pasukan Portugis ang diduduki di sana pada tahun 1527.
Berkat kemenangannya melawan penjajah, maka Syarif Hidayatullah memberikan nama baru bagi sunda kelapa menjadi Jayakarta ang sekarang dikenal dengan nama Jakarta. Tampilnya Sarif Hidaatullah sebagai kyai dan panglima perang tersebut memiliki nilai tersendiri bagi perkembangan umat Islam dan bangsa Indonesia di kemudian hari. Sebagai perlambang bahwa perjuangannya bermotifkan Islam, maka lambang bendera pasukan Fatahillah, sebagai perlambang kota Jayakarta bermotifkan kaligrafi ayat-ayat Alquran. Dari sembilan bagian tersebut: Surat Al-ikhlas, Al-an’am, As shaaf, lafadz basmalah dll.
Sejak pembebasan Jakarta, Portugis tidak pernah bisa menginjakkan kakinya di bumi nusantara terutama Jawa dan Sumatra kecuali tinggal sisanya yang kocar-kacir di sela-sela kepulauan Maluku, mereka terus terpukul oleh pasukan laut kerajaan Demak.
Pada usia senja Syarif Hidayatullah menetap di sebuah daerah perbukitan bernama gunung jati di daerah Cirebon oleh karena itu beliau dikenal dengan sebutan sunan gunung jati.
Ketika menetap di gunung jati, kekuasaan Banten diserahkan kepada putranya yang bernama Hasanuddin dan kekuasaan di daerah Cirebon diserahkna kepada putranya yang bernama Pasarean. Masa hidupnya diwarnai dengan perjuangan untuk agama, bangsa, dan negara. Dan dikenang sebagai kyai pejuang kemerdekaan bangsanya dari jajahan Portugis.
Nama-Nama Pejuang Islam Setelah Wafatnya Syarif Hihayatullah
Nama
Julukan
Daerah
Masa Perang
Negara Penjajah
Perjanjian
Sultan Hasanuddin
Ayam jantan dari timur
Makasar
1 Tahun
(1666-1667)
Belanda
Bongaya
Pangeran Diponegoro
Kholifatullah tanah jowo
Jawa
5 Tahun
(1825-1830)
Belanda
-
Syaih Muh. Saman (Cik Di Tiro).dilanjut dengan Teuku Umar dan Cut Nyak Dien.
-
Aceh
30 Tahun
(1873-1903)
Belanda
-

2.4       Aturan Belanda Dilawan oleh Kyai.
Dominasi kekuasaan Belanda sebagai bangsa penjajah terhadap kaum pribumi kian tahun kian berkembang dan lebih menekan dan menjerat kepentingan dan hak kaum pribumi.
Berbagai macam aturan hukum yang bernama ordonansi yang menangkut hajat hidup kaum pribumi diatur oleh Belanda dan aturan tersebut tidak menguntungkan bagi rakyat Indonesia terlebih lagi untuk umat Islam.
Namun tentu saja para kyai tidak tinggal diam melihat hal tersebut, mereka teruss berjuang demi hak mereka. Mereka terus melakukan perlawanan terhadap ordonansi-ordonansi Belanda. Ordonansi tersebut diantaranya Ordonansi Haji, Ordonansi waris dan perkawinan, Ordonansi guru.
Ø  Ordonansi haji (wajib pajak bagi jamaah haji ang menetap di Makkah) dilawan oleh kyai dengan kongres tahun 1938 yang berisi pembebasan bayar pajak.
Ø  Ordonansi waris dan perkawinan (pengaturan hak waris diserahkan kepada landraad yang dipimpin oleh hakim bangsa belanda). Dikirimnya mosi yang disampaikan kepada pemerintah belanda oleh kongres NU ke 15 tahun 1940 di Surabaya.
Ø  Ordonansi guru (untuk menjadi guru harus dapat ijin dari penguasa Belanda, memberikan pendidikan barat dan mengurangi pendidikan Islam). Dilawan dengan bentuk uzlah, yaitu pindah ke pedalaman dan menyebarkan pendidikan agama Islam di daerah tersebut. Dan para pendidik nari kalangan nasionalis juga mulai menentang kebijakan-kebijakan pemerintah Belanda.
Perlawanan para kyai dan nasionalis di dunia pendidikan kian berkobar, perjuangan KH. Ahmad Dahlan yang kemudian menjadi pendiri muhammadiyah serta berdirinya pesantren-pesantren yang didirikan oleh para kyai NU dan kemudian mendirikan Tanwirul Afkar tahun 1914 kemudian resmi menjadi NU pada tahun 1926 membuat kalang kabut pemerintahan Belanda.
2.5       Hari-Hari Kiamat Bagi Belanda.
Di zaman akhir penjajahan kolonial Belanda banyak peristiwa terjadi. Bukan peristiwa pergolakan fisik namun perlawanan kolonial politik. Hali in ditandai dengan berdirinya pergerakan nasionalisme yang mendambakan kemerdekaan bangsa Indonesia, mulai lahirnya Sarekat Dagang Islam, Budi Utomo, Muhammadiyah, Taman Siswa, dan Nahdlotul Ulama’. Kemudian disusul berbagai wadah gerakan untuk Indonesia merdeka seperti MIAI ang di dalamnya terdapat gabungan dari pera tokoh-tokoh yang berpengaruh seperti NU, Muhammadiyah dan SDI. Gerakan-gerakan mereka cukup keras dan kuat meskipun tanpa senjata api.
Pada tanggal 3 September 1939 berkobarlah perang dunia ke II ang merupakan perang terbuka antara kekuatan Jepang melawan imperialis Inggris, Perancis, Belanda, dan Amerika. Perang dahsyat antara Amerika dengan sekutunya dikenal dengan perang asia timur raya. Keterlibatan Belanda dalam perang tersebut membuat kolonial Belanda di negeri Indonesia kian menekan bangsa Indonesia. Bahkan mereka mengeluarkan Undang-Undang “milisi diensphiten” yaitu wajib ikut perang bagi pemuda yang cukup umur dan wajib transfusi darah.
Menghadapi hal rumit tersebut, para kyai yang tergabung dalam Nahdlotul Ulama tetap melakukan perlawanan dengan cara menolak milisi dan transfusi darah. Bahkan dalam  sebuah kongres para kyai mengultimatumkan larangan bahkan mengharamkan transfusi darah yang berkepentingan untuk membantu peperangan Belanda.
Untuk melunakkan hati dan sikap perlawanan KH. Hasyim Asy’ari sebagai pejuang Islam dan pejuang kemerdekaan bangsanya, maka kolonial Belanda mencoba memberikan hadiah penghargaan berupa bintang kehormatan, namun penghargaan yang berbau politik tersebut ditolak oleh beliaunya.
Suasana dalam negeri terus dilanda perang dingin antara Belanda dengan para kyai serta tokoh nasionalis. Dibalik itu di luar negeri, pada tanggal 8 September 1941 pasukan Jepang melakukan penyerangan ke pangkalan Amerika dan Jepang keluar sebagai pemenang. Termasuk jatuhnya pasukan sekutu Belanda di Indonesia. Tibalah saatnya Belanda menyerah kepada Jepang ang terjadi pada tanggal 8 Maret 1942 di sebuah gedung lapangan terbang militer kalijati Subang Jawa Barat.

2.6       Penjajah Jepang Masuk Indonesia.
Peristiwa jatuhnya Belanda kepada Jepang telah berakibat berakhirnya kekuasaan imperalis Belanda di Indonesia dan Indonesia menjadi jajahan Jepang. Pada awalnya kedatangan Jepang disambut sebagai saudara tua karena Jepang bermaksud membebaskan Indonesia dan membangun kemakmuran bersama di Asia Timur Raya. Namun kenyataan di lapangan berbeda. Hukum perang diberlakukan oleh Jepang, bahkan jepang melebihi batas dari apa yang dilakukan oleh Belanda. Kesengsaraan rakyat Indonesia semakin bertambah, sampai-sampai rakyat sering menyenandungkkan sebuah syair “bekupon omahe doro, melok nippon malah sengsoro”, dari syair tersebut terkandung makna betapa menderitanya mereka setelah di jajah oleh Jepang.
Pasukan berani mati Jepang sudah terbiasa menghadapi berbagai macam senjata api namun dalam menghadapi perlawanan umat Islam yang di pimpin oleh para kyai dan tokoh nasionalis membuat mereka berfikir seratus kali. Pendekatan yang dilakukan adalah dengan membentuk kepala Kantor Urusan Agama (KUA) dengan sebutan “Shumubu” dengan maksud memberikan jabatan kehormatan kepada kyai di desa dan dibalik itu untuk melumpuhkan gerakan nasionalis MIAI yang berpusat di Jakarta. Tak hanya itu para tokoh islam dan ulama’ muda dan santri diberikan latihan militer. Perilaku ini bertujuan agar tokoh-tokoh islam Indonesia dan para pemuda bersedia membantu Jepang untuk meneruskan kekuasaannya di Indonesia.
Usaha Jepang untuk memecah belah antara KUA dengan MIAI jelas gagal. Usaha itu tidak mempan dan justru berbalik menjadi musuh baru bagi penjajah Jepang. Tenang di permukaan namun bara api di bagian dalamnya yang sewaktu-waktu bisa berkobar dan tinggal menunggu waktu.
Perlawanan secara terang-terangan yang dilakukan oleh para tokoh agama yaitu dengan menolak seikere sebagai gerakan jepangisasi dalam bidang agama, Mereka tidak mau membungkukkan badan kepada kaisar Jepang. Selain menyuruh saikere, Jepang juga membuat aturan militer yang berisi agar semua aktivitas politik bangsa Indonesia dihentikan dan dibubarkan. Bila melanggar akan dikenakan sangsi hukum yang berat. Tindakan penangkapan terhadap orang yang dicurigai mulai dilakukan dengan menangkap KH. Hasim Asy’ari dan KH. Machfudz Siddiq, pengurus besar NU. Dua kyai berpengaruh tersebut mendalangi sikap anti jepang dengan menolak seikere dan secara terbuka memberikat fatwa bahwa seikere itu haram hukumnya.
Atas dasar perjuangan yang gigih dan tidak mengenal rintangan, maka ikhtiar membebaskan dua kyai NU tersebut berhasil pada tanggal 18 Agustus 1942, namun karena kondisi fisik KH. Machfudz Siddiq, sepulang dari penyiksaan penjara Jepang, beliau berpulang ke rahmatullah pada tanggal 1 Januari 1944 di komplek pesantren asuhannya di Jember. Di daerah lainpun banyak tokoh-tokoh kyai NU yang ditahan oleh Jepang. Di Wonosobo ada KH. Hasbullah, KH. Masykuri, KH. Tamlikhan dan masih terdapat 10 ulama lagi yang ditahan tanpa alasan yang jelas. Karena situasi tersebut maka untuk sementara kendali pimpinan tertinggi NU dipegang oleh KH. Wahab Hasbullah dan terus memperjuangkan kepentingan umat Islam dan bangsa Indonesia dengan tiga sikapnya:
1.      Menyelamatkan umat Islam dari agama Shintoisme yang telah memperkosa jiwa dan bathin umat Islam.
2.      Menanggulangi kemiskinan rakyat dan umat Islam akibat penjajahan Jepang.
3.      Terus menggalang kerjasama dengan patriotik bangsa Indonesia guna memperjuangkan kemerdekaan dan lepas dari penjajahan Jepang.
Gerakan perjuangan melawa Jepang mulai dilakukan lewat lembaga MIAI, karena wadah ini memang diberi kelonggaran oleh Jepang untuk melakukan aktivitas keagamaan. Namun sayang, umur MIAI tak panjang, karena gelagatnya terbaca oleh Jepang maka organisasi ini dibubarkan oleh Jepang.
Namun dasar potensi dan sikap perjuangan tidak berhenti sampai di situ, walau putus satu tumbuh satu lagi yaitu dengan berdirinya masyumi atau majlis syuro muslim Indonesia yang diprakarsai oleh NU dan Muhammadiyah dan ketua umumnya adalah KH. Hasim Asy’ari. Tujuan utamanya adalah membebaskan rakyat dari jajahan Jepang.
Pemerintah Jepang tidak tinggal diam, walau di sana-sini telah timbul pergolakan untuk menentang Jepang, program pendekatan tetap dijalankan. Berbagai macam cara telah dilakukan untuk menentramkan umat Islam. Salah satu cara yang dilakukan yaitu dengan melibatkan kyai sebagai pimpinan sipil terdepan yang berpartisipasi dalam menentramkan umat Islam. Dengan menguasai kyai maka itu berarti jepang telah menguasai pesantren dan umat Islam.
Tahapan berikutnya adalah dengan pembentukan tentara PETA, namun lagi-lagi kebijakan Jepang ini menjadi bomerang bagi dirinya sendiri, karena dari latihan inilah muncul cikal bakal dan ide pembentukan tentara Hasbullah dan Sabilillah yang kemudian resmi terbentuk pada tanggal 14 Oktober 1944 yang diprakarsai oleh Wahid Hasim dan tokoh-tokoh Masumi.
Di daerah Jawa Barat juga terjadi perlawanan secara fisik. Perlawanan ini dipimpin oleh Kyai Zainal Mmustafa pada tanggal 18 Februari 1944. Pemberontakan ini terjadi karena petani dipaksa menyerahkan padina dan dipaksa ikut Romusha, sebagai tenaga prajurit. Pemberontakan secara fisik ini dapat dilumpuhkan dan tiga bulan kemudian diteruskan oleh haji Madriah, haji Kartiwa, kyai Srengseng, dan kyai Mukasan. Berbulan-bulan tentara Jepang berusaha mengatasi pemberontakan rakyat petani ini. Akhirnya para pemimpin perjuangan ini berhasil ditangkap dan kemudian ditembak mati sebagai syuhada perang. Setahun kemudian dilanjutkan oleh pemberontakan PETA di Blitar yang dipimpin oleh Suryadi tanggal 14 Februari 1945.
Berita kekalahan Jepang terhadap sekutu setelah dua kotanya di bom atom telah sampai ke para patriotik dan pejuang bangsa di Indonesia bahwa Jepang telah menyerah tanpa syarat. Situasi yang amat langkah dan bersejarah tersebut di manfaatkan oleh pejuang bangsa Indonesia, mereka mendesak Soekarno Hatta untuk mengadakan perundingan untuk mempersiapkan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Dengan rahmat Allah SWT. Perundingan tersebut berjalan dengan lancar dan akhirnya pada tanggal 17 Agustus 1945 bertepatan dengan tanggal 9 Romadlon bangsa Indonesia resmi membacakan teks proklamasi kemerdekaan tepat pada pukul 10.00 WIB hari jumat. Suasana keagamaan ikut mewarnai prosesi kemerdekaan dan ini semua adalah salah satu dari buah yang diperjuangkan oleh para kyai dan santri, para suhada’ dan para pejuang kemerdekaan, sejak zaman Sultan Trenggono atau empat abad yang lalu. Maka layaklah bila zaman detik-detik proklamasi dipekikkan lafadz “Allahu Akbar”.

2.7       Kyai dan Santri Bersiap Menghadapi Perang 10 November 1945.
Suasana kegembiraan pasca hari kemerdekaan Republik Indonesia belum lagi puas dinikmati, tiba-tiba suasana berubah ke arah ketegangan karena ada indikasi Belanda mau masuk menguasai Indonesia yang sidah merdeka dengan dalih “melucuti senjata tentara Jepang yang kalah perang”.
Gelagat ke arah perang kian naik. Ketika pada tanggal 19 September 1945, para Indo Belanda, mengibarkan bendera merah putih biru di hotel Yamato yang  kini bernama hotel Majapahit. Bendera itu berkibar sampai tanggal 19 Oktober 1945. Melihat sombongnya para Indo Belanda mengibarkan bendera Belanda maka marahlah pemuda Surabaya. Dengan berkibarnya bendera Belanda menandakan bahwa Belanda telah berhasil masuk ke Indonesia lagi. Pemuda Surabaya tidak tinggal diam, mereka menyerbu hotel Yamato dan merobek warna biru pada bendera sehingga berwarna merah putih. Seorang sinyo Indo Belanda tewas dalam insiden tersebut.
Peristiwa perobekan bendera tersebut menyulut amarah tentara Belanda yang baru pulang dari perang sekutu di asia pasifik. Mereka bergerak maju menuju pantai pendaratan di perairan Indonesia.
Dalam suasana yang kian tegang dan memanas, para kyai dan santri yang tergabung dalam Nahdlotul Ulama terpanggil untuk mengambil sikap dan pendirian. Maka berkumpullah para kyai daerah konsul jawa pada tanggal 20-22 Oktober 1945 di markas HBNO Jl. Bubutan VI/2 Surabaya yang kini telah menjadi gedung PCNU kota Surabaya. Rapat dipimpin oleh KH. Eahab Hasbullah atas izin KH. Hasyim Asy’ari, setelah terlebih dahulu memberikan pengarahan. Pada pertemuan tersebut para kyai mengambil sikap dan garis perjuangan yang kemudian dikenal dengan “Fatwa Resolusi Jihad” dalam menghadapi perang terbuka.
Keputusan Resolusi Jihad tersebut bagai api yang menyulut kayu bakar yang sudah dilumuri minyak gas. Para anggota laskar dan kyai yang ada di sekitar Surabaya bertekat untuk membela bangsa dan negara yang akan kembali di jajah oleh Belanda. Mereka sudah bertekad, hidup atau mati itu urusan Allah SWT. Dan lebih baik mati sebagai pejuang dari pada hidup dalam jajahan. Peperangan pun terjadi, dan perang kyai inilah awal dari perang 10 November 1945.
Selain perjuangan yang ada di Surabaya, dengan adana Resolusi Jihad para umat Islam yang ada hampir di seluruh daerah Indonesia juga mengadakan perlawanan. Mereka siap berjuang fisabilillah guna menentang penjajahan. Daerah-daerah tersebut meliputi: Jawa Barat, Jawa Tengah, Aceh, dan Sumatera Timur.



2.8       Perang di Bawah Komando Kyai.
Perjuangan mempertahankan RI, ternyata bukan pekerjaan mudah, perlu pengorbanan waktu, harta bahkan jiwa para syuhada’. Berbagai laskar pejuang telah majutanpa mengenal waktu dan jiwanya sendiri.
1.      BPRI dipimpin oleh Bung Tomo.
2.      Laskar Mastrip
3.      Grilyawan PETA
4.      BKR dan PPRI.
5.      Hizbullah dipimpin KH. Zainal Arifin atas komando KH. Hasyim Asy’ari.
6.      Sabilillah dipimpin oleh KH. Maskur.
Nama-nama tokoh Hizbullah
1.      KH. Wahib Wahab, putra KH. Wahab Hasbullah
2.      KH. Yusuf Hasyim, putra KH. Hasim Asy’ari.
3.      KH. Munasir Ali
4.      KH. Achyat Chalimi.
5.      KH. Hasim Latif

2.9       Pendapat Ahli Sejarah Tentang Peran Hizbullah-Sabilillah.
a.       Peran hizbullah-sabilillah
-          Prof. Dr. Idris Andrianata Kusuma (ahli sejarah nasional): Perjuangan Hizbullah merupakan usaha perjuangan bangsa menuju kemerdekaan yang di dasari oleh sifat agama. Perjuangan Hizbullah merupakan citra bagi generasi muda dalam rangka menjernihkan persoalan kebangsaan.
-          Prof. Drs. Ahmad Mansur Suryanegara (dosen Unisba dan IAIN Sunan Gunung Jati): dalam perang sabil sekali lagi para kyai dan santri serta umat Islam yang tergabung dalam laskar Hizbullah mengambil bagian dari garis terdepan pada setiap penyerbuan.
-          Dr. Kuncoro (Sejarawan Nasional dari UGM): kalau dulu solidaritas anta santri ang satu dengan ang lain sifatnya spontan maka dengan adanya Hizbullah solidaritas itu terorganisir.
-          KH. Munasir Ali (Komandan batalion hizbullah dari Mojosari): sejak zaman Indonesia merdekan dan aman para lasykar Hizbullah kembali ke induknya masing-masing. Bagi mereka menjadi tentara hizbullah bukanlah pekerjaan melainkan panggilan perang fi sabilillah.
b.      Fatwa resolusi jihad
Seorang ahli sejarah dari UGM Dr. Kuncoro, sebagaimana pengakuannya kepada majalah Tebuireng bulan November 1986 bahwa resolusi jihad itu menunjukkan bahwa umat islam dan bangsa itu satu. Artinya resolusi itu menekan kalau berjuang untuk Indonesia, matinya itu mati syahid.

2.10   Kyai Pesantren dalam Perang Melawan Penjajah.
Di zaman perjuangan kemerdekaan, pesantren tidak hanya berfungsi sebagai basis lembaga keilmuan dalam bidang agama, namun juga berfungsi sebagai lembaga untuk memupuk kesadaran dan cinta tanah air, berbangsa dan bernegara. Perlawanan kyai pengasuh pondok pesantren dilakukan dalam bentuk perlawanan kultural atau perilaku, terhadap tata busana dan peradaban penjajahan. Sedangkan perlawanan dalam bentuk lain dilakukan dengan cara wiridan, memberikan doa, memberikan bekal bathin dan bahkan turun secara langsung untuk memimpin penyerangan secara fisik.
Adapun nama-nama kyai pesantren yang berperan dalam perang melawan penjajah adalah sebagai berikut:
1.      KH. As’ad Syamsul Arifin, pengasuh pondok pesantren salafiyah asembagus Situbondo.
2.      KH. Bisri Syaansuri, Jombang.
3.      KH. Mschrus Aly, Lirboyo Kediri.
4.      KH. Mohammad Hasan Genggong, pengasuh pondok pesantren zainal hasan genggong.
5.      KH. Zaini Mun’im, pengasuh pondok pesantren nurul jadid paiton Probolinggo.
6.      KH. Ruhiat, pengasuh pondok pesantren Cipasung Jawa Barat.
7.      KH. Umar bin Ahmad Ikrom, pengasuh pondok pesantren Raudlotul ulum Sumberwringin Sukowono Jember.
8.      KH. Djunaidi, pengasuh pondok pesantren bustanul makmur Kebonrejo Genteng Banyuwangi.
KH. Mohammad Sholeh Tsalis Mustofa, pengasuh pondok pesantren qomaruddin  Bungah Gresik.
Selain melawan secara fisik, para kyai juga melawan para penjajah dengan non senjata, perlawanan tersebut diantaranya dengan cara kultural yaitu tidak mengikuti segala jenis tingkah laku dan kebudayaan yang dibawa atau dilakukan oleh para penjajah. Hal tersebut dilakukan para kyai supaya rakyat pribumi tidak gampang dipengaruhi oleh para penjajah khususnya dalam ajaran agama.
Perlawanan yang berikutnya adalah dengan digalangkannya do’a dan suwuk disetiap pertempuran. Sebagai umat Islam  berdoa adalah kunci utama dalam setiap aktifitasnya. Dengan membekali diri dengan doa dan ilmu spiritual diharapkan Allah senantiasa meridloi, dan mempermudah dalam segala urusannya.

BAB III
PENUTUP

3.1              Kesimpulan Akhir
Dari berbagai data, fakta dan catatan sejarah tentang peranan yang dilakukan oleh para kai terhadap bangsa, negara dan agama, sekaligus sebagai pejuang yang berperang merebut kemerdekaan, maka secara garis besar dapat disimpulkan sebagai berikut:
a)      Kesadaran berbangsa, mencintai negara, dan kesadaran terhadap pentingnya arti sebuah kemerdekaan ternyata cukup tinggi dikalangan para kyai, Tokoh agama dan santri.
b)      Nilai perjuangan kyai tidak didasari rasa pamrih oleh pangkat, jabatan, dan harta. Namun hanya karena semata-mata ridlo dari Allah dan cinta tanah air.
c)      Tampilnya kyai-kyai pejuang adalah sunnatullah, panggilan zaman.
d)     Para kyai dalam sekian banyak bergulir dalam perjuangan bangsa merebut kemerdekaan senantiasa menjadi figur utama pemimpin.
e)      Para kyai ternyata dapat merakit hubungan kerjasama dengan teman seperjuangan yang lain.
f)       Adanya musuh dalam selimut ternyata sudah ada dan dirasakan oleh para para kyai.
g)      Keberadaan pondok pesantren ternyata tercatat sejarah sebagai lembaga double dimensi. Bisa berfungsi sebagai lembaga pendidikan dan juga berfungsi sebagai memasak kader pejuang dan sekaligus sebagai markas perang.

3.2  Isi Resolusi Jihad
1.      Kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, wajib dipertahankan.
2.      Republik Indonesia sebagai satu-satunya pemerintahan yang sah, wajib dibela dan diselamatkan meskipun meminta pengorbanan harta dan nyawa.
3.      Musuh-musuh Republik Indonesia terutama Belanda yang datang membonceng tugas-tugas tentara sekutu (Amerika-Inggris) dalam masalah tawanan perang bangsa Jepang, tentulah akan menggunakan kesempatan politik dan militer untuk kembali menjajah Indonesia.
4.      Umat Islam terutama warga Nahdlotul Ulama, wajib mengangkat senjata melawan Belanda dan kawan-kawannya yang hendak kembali menjajah Indonesia.

5.      Kewajiban tersebut adalah “jihad” ang menjadi kewajiban tiap-tiap orang Islam (Fardlu ain) yang berada dalam jarak radius 94 km, (akni jarak dimana umat Islam boleh sembahyang jama’ dan qoshor). Adapun mereka ang berada di luar jarak tersebut berkewajiban membantu saudara-saudaranya yang berada dalam jarak radius 94 km tersebut.


EmoticonEmoticon